Minggu, 12 Februari 2012

Psikologi Sosial : Perilaku Prososial


A.    Pengertian Perilaku Prososial
Sebelum membahas mengenai pengertian perilaku sosial, perlu diketahui bahwa perilaku prososial agaknya sama dengan altruisme.
Altruisme adalah tindakan sukarela yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun ( kecuali mungkin perasaan telah melakukan kebaikan.[1] Artinya Altruisme itu sendiri dapat didefinisikan sebagai hasrat untuk menolong orang lain tanpa memikirkan kepentingan sendiri.
Dari definisi diatas, dikatakan tindakan altruistik atau tidak itu tergantung pada tujuan sipenolong. Misalnya ada orang yang tidak dikenal yang mempertarukan nyawanya sendiri untuk menolong korban dari mobil yang terbakar, dan kemudian menghilang begitu saja, merupakan tindakan altruistik.
Untuk pengertian Perilaku Prososial mencakup kategori yang lebih luas: meliputi segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain, tanpa memperdulikan motif-motif si penolong.[2]
B.     Faktor-Faktor Yang Mendasari Perilaku Prososial
Beberapa penilitian psikologi sosial memperlihatkan bahwa perilaku prososial dipengaruhi oleh karakteristik situasi, karakteristik penolong, dan karakteristik orang yang membutuhkan pertolongan.
1.      Situasi
Faktor utama dan pertama, menurut penelitian psikologi sosial, yang berpengaruh pada perilaku menolong atau tidak menolong adalah adanya orang lain yang kebetulan berada bersama ditempat kejadian ( bystenders ). Semakin banyak orang lain, semakin kecil kecenderungan orang untuk menolong. Sebaliknya, orang yang sendirian cenderung lebih bersedia menolong.
Orang yang paling altruis sekalipun cenderung tidak memberikan bantuan dalam situasi tertentu. Penelitian yang telah dilakukan membuktikan makna penting beberapa faktor situasional, yang meliputi kehadiran orang lain, sifat lingkungan, fisik, dan tekanan keterbatasan waktu.
2.      Kehadiran Orang Lain
Sebuah Hipotesis diajukan oleh Psikolog sosial Bibb Latane dan John Darley ( 1970 ). Mereka mengemukakan bahwa kehadiran orang lain yang begitu banyak mungkin telah menjadi alasan bagi tiadanya usaha untuk memberikan pertolongan. Misalnya Orang-orang yang menyaksikan  sebuah tragedi pembunuhan disuatu tempat, mungkin menduga bahwa orang lain sudah menghubungi polisi, sehingga kurang mempunyai tanggungjawab pribadi untuk turun tangan.
Untuk menguji gagasan bahwa jumlah saksi  mempengaruhi pemberian bantuan, Darley, dan latene ( 1968 ) merancang penelitian laboraturium. Para mahasiswa yang mendengar adanya ” keadaan darurat ” lebih cenderung memberikan reaksi bila mereka sendirian ketimbang bila mereka mempunyai anggapan bahwa orang lain juga mengetahui situasi tersebut. Semakin banyak orang yang hadir, semakin kecil kemungkinan seseorang benar-benar memberikan pertolongan, dan semakin besar rata-rata tentang waktu pemberian bantuan. Darley menamakannya efek Penonton ( bystender Effect ).
3.      Kondisi Lingkungan
Keadaan fisik juga mempengaruhi kesediaan untuk membantu. Kalau orang merasa mampu, ia akan cenderung menolong, sedangkan kalau merasa tidak mampu ia tidak menolong.
Efek cuaca terhadap pemberian bantuan diteliti dalam dua penelitian lapangan yang dilakukan oleh Cunningham ( 1979 ). Dalam penelitian pertama, para pejalan kaki dihampiri diluar rumah dan diminta untuk membantu peneliti dengan melengkapi quisoner. Orang lebih cenderung membantu bila hari cerah dan bila suhu udara cukup menyenangkan ( relatif hangat di musim dingin dan relatif sejuk di musim panas ). Dalam penelitian kedua yang mengamati bahwa para pelanggan memberikan tip yang lebih banyak bila hari cukup cerah. Penelitian yang lain menyatakn bahwa orang lain cenderung menolong pengendara motor yang mogok dalam cuaca cerah daipada dalam cuaca mendung. Singkatnya cuaca memang benar-benar menimbulkan perbedaan pemberian bantuan, meskipun para pakar psikologi masih memperdebatkan alasan yang tepat untuk efek ini.
4.      Tekanan waktu
Biasanya orang-orang yang sibuk dan tergesa-gesa cenderung untuk tidak menolong, sedangkan orang yang santai lebih besar kemungkinannya untuk memberi pertolongan kepada yang memerlukannya. Darley & Batson ( 1973 ) mengadakan percobaan dengan mahasiswa-mahasiswa Teologia Universitas Princenton, Nj. Para mahasiswa itu dibagi dalam dua kelompok. Kedua kelompok diberi kuliah  tentang perilaku menolong. Setelah kuliah, mereka diminta ke ruang lain untuk menyaksikan pemutaran video. Pada kelompok 1 di beri tahu bahwa mereka harus cepat-cepat karena mereka sudah terlambat,sedangkan pada kelompok 2 diberitahu bahwa mereka masih mempunyai banyak waktu karena persiapan alat video. Ada seorang pria tua terbatuk-batuk berat. Ternyata, hanya 10 % dari kelompok 1 yang menawarkan bantuan, sementara dari kelompok 2, 2/3 diantaranya menawarkan bantuan kepada pria tua itu.[3]
Dari penelitian diatas hasilnya sudah memperlihatkan bahwa siswa yang tergesa-gesa mempunyai kecenderungan yang lebih kecil untuk menolong dibanding mereka yang tidak mengalami tekanan waktu.
5.      Kemampuan Yang Dimiliki
Faktor situasional dapat meningkatkan atau menurunkan kecenderungan orang untuk melakukan tindakan  proposial. Namun, yang juga diperlihatkan penelitian-penelitian ini adalah bahwa  beberapa orang tetap memberikan pertolongan meskipun kekuatan situasional menghambat pemberian bantuan, dan yang lain tidak memberikan bantuan meskipun berada dalam kondisi yang sangat baik. Ada perbedaan individual.
Kalau orang merasa mampu, ia akan cenderung menolong sedangkan kalau merasa tidak mampu ia tidak menolong. Di taiwan terdapat norma masyarakat yang mengharuskan anak-anak  yang sudah dewasa untuk mendukung ekonomi orang tuanya yang sudah lanjut usia, tetapi hanya orang-orang yang kemampuan ekonominya cukup yang melaksanakan ketentuan itu.[4]
Mengapa ada perbedaan individual. Dalam usaha memahami mengapa ada orang yang lebih mudah menolong dibandingkan orang lain, para peneliti menyelidiki karakteristik keoribadian yang relatif menetap maupun suasana hati dan psikologis yang lebih mudah berubah.
C.    Cara Meningkatkan Perilaku Prososial
Meningkatkan prilaku menolong secara teoretis juga dapat diusahakan walau-pun dalam kenyataannya belum ditemukan suatu cara yang paling ampuh.
Secara umum berbagai upaya yang di kemukakan dapat dibagi dalam dua jenis, yaitu mengurangikendala yang menghambat altruisme dan memasyarakatkan altruisme itu sendiri.

1.    Mengurangi kendala
Ada beberapa cara untuk mengurangi kendala yang menghambat prilaku menolong.
a.         Mengurangi keraguan atau ketidakjelasan (ambiguitas) dan meningkatkan tanggungjawab. Misalnya,kalau di tokoh swalayan ada orang yang mencuri (ngutil) biasanya pengunjung lain akan pura-pura tidak tahu karena ragu apakah orang mengutil betul-betul atau pegawai yang sedang memeriksa barang-barang dan pengunjung lain itupun tidak merasa ikut bertanggung jawab. Lain halnya ada orang berteriak, “hei, orang itu mencuri!”, pengunjung lain akan segera breaksi karena mereka tidak ragu-ragu lagi dan merasa terpicu untuk ikut bertanggungjawab.
b.        Peningkatan rasa tanggung jawab  dapat di pancing dengan ajakan secara pribadi (foss,1978). Sewaktu penulisan sendiri aktif dalam gerakan sukarelawan konsultasi lewat telepon (hotline service),baik untuk remaja (1983-1986) maupun untuk penderita AIDS (1995-1996),sebagian sukarelawan bersedia untuk berpatisipasi karena ajakan pribadi penulis. Ketika penulis dan beberapa aktivis inti tidak lagi tidak terlibat dalam gerakan itu, sukarelawan juga ikut menghilang. Cara lain adalah mempribadikan hubungan dengan cara menyebut lawan bicara kita. Daripada kita panggil lawan bicara kita denga bapak, ibu, atau saudara,lebih baik kita memanggilnya dengan Pak Sanusi, Ibu Titi, atau Pak Kamso. Orang yang diajak terlibat secara pribadi cenderung lebih menolong daripada yang sekadar di anggap sebagai orang lain saja (Solomon dkk, 1981) (Catatan: kasir bank atau petugas pasasir di Bandara dapat mengetahui nama pelanggan atau penumpang setelah membaca namanya di kertas cek atau tiket dan selanjutnya memanggil pelanggan atau penumpang dengan namanya. Di pihak lain, banyak ibi-ibu yang mau meminta tolong kepada anaknya atau pembantunya tanpa memanggil namanya, tetapi hanya menyebut “Hei” atau “Ssst”).
c.         Kendala pada prilaku menolong dapat di turunkan dengan meningkatkan rasa bersalah. Caranya adalah dengan mengingatkan seseorang tentang kesalahannya. Dengan demikian, orang itu cenderung lebih mau menolong untuk menebus kesalahannya itu.
d.        Cara lain untuk menurunkan kendala adalah dengan memanipulasi gengsi atau harga diri seseorang. Kalau kita mau meminta sumbangan Rp.10.000,00 kita mengatakan dahulu bahwa kita perlu sumbangan sebesar Rp 50.000,00. Orang yang di mintai sumbangan mungkin akan berkata, “Ah, kalau uang sebanyak saya tidak punya” dan anda menjawab,”kalau begitu berapa saja bolehlah, sekadarnya saja. Sepuluh ribu juga tidak apa-apa”. Kemumgkinan juga orang itu akan menjawab, “kalau sepuluh ribu si biarin deh, itung-itung sedekah”. Gengsi orang itu tertolong dengan adanya sumbangan yang Rp 10.000,00, sehingga ia ikhlas menyumbang walaupun seandainya ia langsung di mintai Rp 10.000,00ke mungkinan ia sudah menjawab tidak punya juga.
2.      Memasyarakatkan altruisme
a.       Mengajarkan inklusi moral,yaitu adalah orang lain golongan kita.
Inklusi moral meningkatkan prilaku menolong (Fogelman, 1994). Di pihak lain perlu di upayakan menghindari eksklusi  moral (dalam dialek betawi: elo-elo, gue-gue) karena eksklusi moral merupakan sumber diskriminasi,bahkan member peluang saling membunuh (Staub, 1990; Opotou, 1990; Tyler & Lind, 1990). Selain itu, perlu juga di ajarkan altruisme melalui model di keluarga (keluarga), sekolah (guru-guru) dan di kalangan teman (Staub, 1998, 1991, 1992), atau lewat televisi (Hearold, 1986), Misalnya film “lassie” (Spratkin, Liebert &Poulus, 1975) atau film “Mister Rogers”, Neighborhood” dan “Sesame Street” (forge & Phemister, 1987) yang sudah terbukti sangat berpengaruh pada prilaku menolong kepada anak- anak.
b.      Memberikan atribusi “menolong” pada prilaku altruis seorang yang sudah membantu orang lain, kemudian di beri ucapan “terima kasih atas pertolongan anda” merasa bahwa prilakunya betul-betul membantu orang lain sehingga ia cenderung mengulanginya pada kesempatan lain. Kepuasan semacam ini tidak terdapat prilaku menolong itu di beri imbalan uang (Batson dkk., 1978, 1979).
c.       Member pelajaran dengan altruisme
Orang yang tahu bahwa keberadaan orang lain akan menghambat prilaku menolong akan tetap menolong walaupun di tempat itu banyak orang lain. Sebaliknya, orang yang tidak tahu akan berlalu begitu saja (Beamen dkk., 1978).



[1] Michael Adriyanto, Psikologi Sosial, Jilid V,Erlangga,1985, hlm 47
[2] Michael Adriyanto, Psikologi Sosial, Jilid V,Erlangga,1985, hlm 47
[3] Michael Adriyanto, Psikologi Sosial, Jilid V,Erlangga,1985, hlm 65
[4] Sarlito Wirawan Sarwo. Psikologi Sosial.Jakarta : Balai Pustaka, 2002, hlm 340-341.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar