Minggu, 12 Februari 2012

Pengantar Sosiologi : Perubahan Sosial


A.    Pengertian Perubahan Sosial dan Kebudayaan
Perubahan social adalah proses continue yang tampak dalam perubahan-perubahan hubungan-hubungan social, ia mengandung aspek normative dari kehidupan masyarakat dan menyangkaut soal interpretasi.[1]
Perubahan kebudayaan adalah peruibahan-perubahan didalam struktur-struktur social dan hubungan social di masyarakat. Merupakan perubahan dalam kebudayaan suatu masyarakat.
Termasuk perubahan-perubahan social, misalnya:
a)      Perubahan jumlah penduduk karena angka kelahiran dan kematian
b)      Perubahan berkenaan dengan usia ( distribusi usia )
c)      Perubahan mutu rata- rata karena pendidikan
d)     Mundurnya suasana informal dan keramh-tamahan pribadi sebagai akibat pindahnya orang dari desa kekota
e)      Perubahan-perubahan didalam hubungan social antara buruh dan majikan, suatu perserikatan telah menjadi teratur
f)       Perubahan tingkah laku, seorang suami dari status bos keseorang teman dilingkungan keluarga yang bercorak demokratis
Perubahan kebudayaan, misalnya :
a)      Karena adanya penemuan baru, seperti aoto mobil yang dari tahun ketahun slalu berubah karena slalu ada penemuan yang baru
b)      Penambahan kata-kata baru ( kosa kata ) dalm bahasa kita
c)      Perubahan konsep tentang sopan santun ( kepantasan kelakuan ) dan moral, etika ( adab ).
d)     Bentuk-bentuk baru dibidang musik, seni, tarian, atau adanya kecenderungan umum yang mengarah kepada persaamaan ( kedudukan pria dan wanita )

Konsep  ini tumpang tidih, sebab kecenderungan arah menuju sex equality  ( persamaan jenis kelamin ) itu termasuk, baik dalam perubahan-perubahan perangkat norma-norma kebudayaan, dan termasuk juga di dalamnya peranan pria dan wanita, serta perubahan-perubahan dalam hubungan-hubungan social ( social change ).
Pembadaan pengertian sulit dilakukan sebab sangat berdekatan, oleh karena kedua istilah kadang-kadang dipakai bersama sebagai “  socio cultural change “ atau perubahan social kebdayaan, untuk perubahan kedua macam sekaligus ( Horton & Hunt, 1976 : 444 ). Perbedaannya terletak pada definisi yang diberikan tentang masyarakat dan kebudayaan. Jika definisinya jelas, maka jelas pula perbedaan antar perubahan social dan kebudayaan itu. Akan tatapi oleh karena tidak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan, dan sebaliknya tidak mungkin ada kebudayaan yang tidak terjelma dalam suatu masyarakat, maka sebenarnya acap kali mudah untuk menentukan dimana letaknya garis pemisah antara masyarakat dan kebudayaan.
Meskipun secara teoritis dan analisis pemisahan antara pengertian-pengertian itu dapat dirumuskan, namun di dalam kehidupan yang nyata garis pemisahan itu sukar dapat dipertahankan. ( Selo Soemardjan, 1974: 488 )
Biasanya diantara kedua gejala tersebut dapat ditemukan hubungan timbal balik sebagai sebab dan akibat. Oleh karena itu untuk mengetahui suatu perubahan dalam masyarakat. Perlu diketahui sebab-sebab yang mengakibatkan perubahan dalam masyarakat, perlu diketahui sebab-sebab yang mengakibatkan perubahan. Ada sebab yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri, dan ada sebab-sebab yang berasal dari luar atau pengaruh dari masyarakat lain.
Sebab-sebab perubahan yang berasal dari luar, biasanya perubahan terjadi karena kebudayaan masyarakat lain yang mempengaruhinya lebih kuat daripada kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Hal itu terjadi karena hubungan timbal balik secara fisik, sehingga cenderung untuk saling mempengaruhi. Jika hubungan social terjadi secara tidak langsung ( memakai media massa, film tv,radio ), maka ada kemungkinan pengaruhnya itu datang nya dari satu pihak, yang secara aktif menggunakan media tersebut yang terkena pengaruh, sedangkan yang lain, tidak menerima pengaruh, tetapi yang mempengaruhi.


B.     Faktor-Faktor Penyebab Perubahan Sosial dan kebudayaan

Perlu dipahami dulu makna istilah sebab iti. Sebab ( cause ) seringkali dibatasi sebagai satu penomena yang meliputi kedua hal, yaitu penting dan cukupnya untuk menghasilkan satu akibat ( pengaruh ) yang dapat diperkirakan atau diramalkan. ( Horton & Hunt, 1976 : 447 ). Hal itu penting diketahui karena tidak pernah ada akibat tanpa sebab, dan cukup tidaknya sebab itu sendiri untuk menimbulkan akibat. Didalam ilmu-ilmu social umumnya, sebab-sebab itu adalah sejumlah factor yang berinteraksi didalam memproduksikan satu hasil.
Factor-faktor yang paling berpengaruh dalam perubahan social adalah factor social dan kebudayaan , bukan factor biologis dan geografis. Meskipun ada juga pendapat yang menyatakan segi biologis dan geografis, namun pendapat tersebut tidak cukup kuat.
Factor-faktor yang turut berinteraksi dalam proses perubahan social, antara lain :
a)      Lingkungan phisik;
Perubahan-perubahan utama di dalam lingkungan fisik kelewat jarang, tetapi sangat-sangat memaksakan, kapan saja terjadi. Misalnya saja, karena gunung meletus, gempa bumi atau perubahan-perubahan cuaca yang mengakibatkan perubahan besar dari daerah subur menjadi tandus, bahkan menjadi daerah padang pasir, akan memaksa penduduk di daerah itu untuk meninggalkan wilayahnya, atau bahkan mengalami kepunahan, hingga punah pula budaya atau masyarakat.
b)      Perubahan penduduk;
Perubahan penduduk akan mengakibatkan perubahan social dan kebudayaan, seperti di daerah transmigrasi, yang semula daerahnya masih kurang padat penduduk, atau belum berpenduduk, dengan datangnya penduduk baru di daerah itu. Semakin padatnya penduduk unsure-unsur keramahtamahan kelamaan semakin menjadi kabur, dan akan terjadi perubahan di bidang-bidang kehidupan yang lain. Diantara ilmuan-ilmuan social, ada yang berpendapat bahwa ledakan jumlah penduduk akan mengancam kehidupan dan menyebabkan kehancuran total peradaban moderen.
c)      Isolasi dan kontak
Sejak adanya unsur-unsur baru yang lebih banyak mendatangkan usaha menembus isolasi, terjadi penyebaran yang dapat menimbulkan perubahan dalam segala segi kehidupan, baik social maupun kebudayaan. Kontak social sangat besar pengaruhnya dalam membawa kepada perubahan. Contohnyya, jepang menjadi maju setelah dibuka oleh Amerika, juga RRc, setelah kunjungan Presiden Nixon dari AS pada 1966.
Perang dan perdagangan selalu membawa kontak antar kebudayaan dan membawa perubahan. Dewasa ini, dengan semakin digalakkannya tourisme ( pariwisata ), akan semakin terbuka pula terjadinya kontak social dan kebudayaan di antara bangsa-bangsa di dunia.
d)     Struktur social dan kebudayaan
Struktur masyarakat dan kebudayaan berpengaruh pada perubahan. Dari penelitian Inkeles dan Smith ( 1974 ) dituju Negara yang sedang membangun, untuk mendapatkan indicator apa yang menyebabkan orang-orang menerima perubahan?, mereka menemukan bahwa :
1)      Orang-orang yang bekerja dipabrik dan mereka yang membaca surat kabar ternyata lebih mudah menerima perubahan.
2)      Masyarakat yang memberikan otoritas yang besar kepada orang tua, cenderung untuk konservatif dan stabil.
3)      Masyarakat yang menekankan pada comformity ( penyesuaian diri ) pada tradisi adalah kurang menerima perubahan dari pada masyarakat yang memberikan keleluasaan kepada pribadi dan bersifat toleransi sehingga mereka dapat mempertimbangkan budaya yang berbeda-beda.
4)      Birokrasi yang terpusat, sangat dimungkinkan untuk membawa kearah kemajuan dan penyebaran perubahan-perubahan, walaupun kadang-kadang birokrasi digunakan untuk menindas adanya perubahan.
e)      Sikap dan nilai-nilai
Sikap dan nilai-nilai masyarakat sangat mendorong dan sangat sebaliknya. Missal, sikap orang Amerika yang memandang perubahan sebagai hal yang normal tetapi sebaliknya. Sikap orang Tobriand ( di kepulauan diluar New Guenea ) tidak memiliki konsep tentang perubahan itu. Dari kedua gambaran sikap masyarakat itu, jelas sekali bahwa sikap dan nilai-nilai masyarakat dapat mendorong atau sebaliknya pada perubahan.
f)       Kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan
Kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan oleh seseorang atau masyarakat sangat berpengaruh pada dasar dan arah perubahan. Dibeberapa Negara yang sedang membangun atau dinegara –negara yang terbelakang, terdapat banyak masyarakat yang mengkonsumsi makanan yang kurang tepat. Orang tidak hanya memerlukan  lebih banyak makanan, tetapi mereka juga membutuhkan makanan yang banyak fariasi, terutama sayur, buah-buahan dan ikan. Kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan ini membawa pengaruh kepada orang dan masyarakat untuk berdaya cipta menemukan sesuatu ( Discovery, Invention, maupun innovation )
g)      Dasar budaya
Dasar budaya ( cultural base ) dimaksudkan seperti yang dikatakan oleh Horton & Hunt ( 1976 : 451 ) “ The accumulation of knowledge and technique available to the invention “ dasar-dasar budaya ini merupakan factor penting dari semua unsur penyebab terjadinya perubahan, sebab ia menyediakan pondasi pengetahuan dan keterampilan yang penting untuk mengembangkan unsure-unsur baru, yang memperluas kemungkinan adanya inovasi, melipatgandakan serta menyebarluaskannya keluar masyakat an wilayahnya, juga menghasilkan penemuan baru yang lebih banyak dan bermanfaat untuk perubahan.

C.    Proses Perubahan Sosial dan Kebudayaan
Proses perubahan social meliputi :
a.      Discovery
Discovery ialah penemuan dari suatu unsure kebudayaan yang baru, abik yang berupa suatu alat baru ataupun yang berupa suatu ide yang baru, yang diciptakan oleh seorang individu atau suatu rangkaian ciptaan-ciptaan dari individu-individu dalam masyarakat yang bersangkutan.[2]
Suatu penemuan ( discovery ) adalah satu daya tangkap manusia secara bersama-sama dari aspek kenyataan yang sudah ada. Sebagai contoh, manusia telah menemukan prinsip-prinsip lever, predaran darah dan reflek karena rangsangan. Demikian juga petani telah menemukan cara memisahkan biji padi dari bulirnya, dari cara yang tradisional dengan menumbuk bulir-bulir padi agar biji-bijinya terpisah, lalu dengan cara menginjak-injak bulir-bulir padi tersebut agar biji-biji nya terpisah. Kemudian dengan cara membanting-banting bulir-bulir padi yang masiha ada batangnya itu pada sebilah papan. Yang terakhir ditemukan mesin pemisah biji-biji padi tersebut.
Discovery ( Penemuan ) adalah satu tambahan  pada gudang dunia ilmu pengetahuan yang sudah dibenarkan. Ia menambah sesuatu yang baru dalam kebudayaan, sebab walaupun kenyataan itu sudah ada ia menjadi bagian dari kebudayaan hanya setelah ditemukan. Discovery menjadi suatu factor dalam perubahan social, hanya ketika ia sudah dipakai. Ia mungkin menjadi suatu bagian dari latar belakang pengetahuan yang dipakai orang dalam mmengevaluasi praktek-praktek mereka dewasa ini.
Penemuan discovery menjadi satu factor didalam perubahan social mana kala pengetahuan baru itu dipungut untuk penggunaan-pengguanaan baru.
b.      Invention
Ada beberapa penerjemahan bahasa Indonesia untuk kata invention ini. H.M. Nuh Miraza dkk, ( 1972:189 ) menerjemahkan nya sebagai “ pendapat baru “, Hasan Sadzili ( 1975 :330 ) menerjemahkannya sebagai “hasil penemuan, ciptaan”, Sanapiah Faisol (alfin bertran, 1980:168), mengalih bahasakan dengan “ penciptaan”.
Invention, seringkali dibatasi sebagai “satu kombinasi baru atau satu penggunaan baru dari pengetahuan tang sudah ada”, misalnya ditahun 1895 George selden dengan mengkombinasikan hal-hal yang sudah ada, menghasilkan sesuatu barang yang kemudian dikatakan sebagai auto mobil. Hak paten George Selden tentang auto mobil itu kemudian diserang dan akhirnya dicabut kembali oleh pengadilan dengan landasan bahwa dai bukan yang mula-mula mempunyai ide mengkombinasikan unsure-unsur tersebut.
Invention mengandung unsure: adanya unsure-unsur lama (yang sudah ada) dan ide untuk menggabungkan, sehingga menghasilkan sesuatu yang baru (yang belum pernah ada sebelumnya) yang dalam bahasa inggris disebut novelty. Seperti besi ditambah dengan metal lain dalam jumlah tertentu menjadi baja, suatau metal baru dengan sifat-sifat yang bukan metal yang telah diketahui sebelumnya (pada waktu itu).
Invention dengan discovery agak sulit dipisahkan ada yang membedakan berdasarkan motivasi. Dalam hal discovery (penemuan), itu terjadi secara kebetulan, sedangkan pada invention, merupakan satu hasil usaha yang sadar.
Lington, seperti dikutip oleh Harsojo (1972:138) mengajukan devinisi bahwa “discovery adalah setiap penambahan pada pengetahuan dan invention adalah pengetrapan yang baru dari pengetahuan”.
Invention dapat diklasifikasikan dalam:
Ø  Material invention, seperti busur dan anak panah, telephone, pesawat udara, dan lain-lain.
Ø  Social invention, seperti abjad atau alphabet, pemerintahan konstitusional, dan lain-lain.
Sebuah buku populer yang ditulis oleh Burlingame (1947), menganalisa sejumlah invention, menunjukkan bagaimana tiap-tiap invention, pada setiap bagian dimulai ratusan atau ribuan tahun yang lalu dan berlangsung terus melewati berdosin-dosin penciptaan pendahuluan dan tingkat antara.
Invention bukah hanya terbatas pada satu masalah individu, tetapi juga satu proses social meliputi serial modivikasi dan perbaikan-perbaikan serta rekomendasi hingga ahkirnya menjadi sesuatu novelty (yang baru).
Gillin (1948) menunjukkan bahwa “tiap-tiap invention boleh jadi baru di dalam bentuk, fumgsi ddan makna atau artinya. Bentuk,  mengacu pada bentuk dari objek baru itu, atau tindakan dari pola tingkah laku baru. Fungsi mengacu kepada “untuk apa invention dilakukan”, dan makna atau arti, mengacu kepada konsekuensi pemakaian melewati proses pengaturan yamg panjang”. 
Prof. Harsojo (1972:139), mengemukakan dua hal tentang invention, yaitu : a. basic invention, b. improving invention. Yang pertama, yaitu yang meliputi pemakaian prinsip-prinsip baru atau kombinasi fari prinsip-prinsip baru. Basic disini mempunyai arti “bahwa ia membuka kemungkinan-kemungkinan akan adanya kemajuan dan menjadi dasar dari berbagai invention” jika basic invention itu telah diterima oleh suatau masyarakat, maka timbullah improving invention, yang biyasanya mempunyai arti “memperbaiki penemuan-penemuan yang telah ada”.
Basic invention ini merupakan produk dari dua aktivitas, yaitu aktivitas yang diusahakan dengan sadar, dan aktivitas yang terjadi secara kebetulan.
Dalam masyarakat moderen ini, basic invention dilakukan dengan sadar dan dihasilkan dalam laboratorium dengan rencana penelitian-penelitian tertentu.
Yang paling penting bagi kegunaan sehari-hari ialah improving invention, sebab basic invention itu biyasanya amatlah kurang sempurna untuk digunakan praktis.
c.       Innovation.
Istilah inovasi kadang-kadang dipakai untuk sekaligus yang mengandung arti discovery dan invention. Sebagaimana disebutkan oleh Barnett. Penerjemahan  innovation ke bahasa Indonesia berbeda-beda, tapi tidak mengurangi maknanya.[3]
 Dalam kamus Ksatrya,Innovation dialihbahasakan sebagai “ penggantian cara-cara yang lama dengan yang baru “[4]
Menurut Hasan Sadzily dan John M. Echols, innovation diterjemahkan sebagai “ pembaharuan, perubahan ( secara ) baru, dan innovator sebagai penemu cara baru, pembaharu “.[5]
Barnett memberi definisi innovation sebagai pikiran, tingkah laku, atau barang-barang yang dianggap baru, karena secara kualitatif berbeda dengan bentuk-bentuk yang ada. ( An innovation is here defined as any thought, behaviour, or thing that is new because it is qualitatively different from existing forms ).[6]
Tiap innovasi adalah suatu ide atau konstelasi ide yang menurut kodratnya hanya dalam organisasi mental, dalam tata piker yang sifatnya ruhaniah. Inovasi akan tampak nyata jika telah menjadi kelakuan, tindakan atau sesuatu barang yang dihasilakn sebagai konsekuensi inovasi tersebut.
Ukuran baru sesuatu ide, kelakuan atau benda-benda yang dihasilkan adalah relative, artinya bersifat subyektif menurut pandangan seseorang yang menangkapnya. Jika seseorang menganggap suatu gagasan baru, artinya secara kualitatif berbeda dari kebiasaan yang ada. Dengan begitu, baru dalam ide yang inovatif, tidak berarti harus baru sama sekali.
Setiap gagasan pernah menjadi inovasi. Tiap inovasi. Tiap inovasi pasti berubah seiring dengan berlalunya waktu. Ada inovasi  yang perlu disebarluaskan dan diadopsi, tetapi ada juga yang tidak perlu disebarluaskan dan diadopsi. Inovasi yang tidak cocok dengan seseorang dan social, bisa mendatangkan bahaya dan tidak ekonomis. Ada inovasi yang berwujud dan ada yang tidak berbentukk ( hanya berupa ide ).
Inovasi itu timbul dan dimungkinkan oleh mekanisme psychology untuk  belajar sebagaimana biasa, dan dibedakan daripada tingkah laku yang amat individual. Bahwa kebiasaan yang diajukan secara baru itu diterima dan diteruskan secara social.
Dalam rangka studi tentang perubahan social dan kebudayaan inovasi dapat dibedakan menjadi :
1.      Variasi, apabila yang berubah itu segi yang amat kecil saja dari adapt kebiasaan yang terdahulu, misalnya mode pakaian, ( mini, midi, maxi dan lain-lain ), kebiasaan memperingati hari lahir yang makin diformulasikan dan bersifat profane.
2.      Tentation atau invention, ialah satu proses perubahan yang tidak terjadi atas kontinuitas. Dalam arti lebih lanjut, invention adalah proses yang mengkombinasikan unsur-unsur yang telah ada, menjadi unsur-unsur yang lebih baru. Tetapi ia menimbulkan unsure-unsur kebudayaan baru sebagai hasil kerja secara trial and error dalam menghadapi situasai-situasi atau problema-problema baru. Discovery, invention, variation, tention dan diffuse adalah bagian-bagian dari innovation.[7]

d.      Diffusi ( diffusion = Penyebaran )

Kemajuan yang dicapai oleh banyak masyarakat didunia dewasa ini sebagaian besar disebabkan oleh adanya penyebaran dan peminjaman kebudayaan atau unsure-unsurnya dari masyarakat ke masyarakat yang lain, yang disebut difusi.
Dengan demikian difusi dapat dikatakan sebagai “ proses persebaran dari unsure-unsur kebudayaan dari seseorang ( individu ) ke individu yang lain, dari individu yang lain, dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain.”
Proses yang tersebut pertama ialah persebaran dari individu ke individu yang lain didalam batas satu masyarakat disebut difusi intra masyarakat atau intra-diffusion, dan proses yang kedua ialah, persebaran dari masyarakat ke masyarakat disebut difusi inter masyarakat atau inter diffusion.
Proses persebaran berlangsung baik didalam masyarakat, dan diantara masyarakat-masyarakat. Misalnya, Jaz adalah musik orsinil diantara musisi berkulit hitam di New Orleans, dan menjadi tersebar ke kelompok lain didalam masyarakat itu, hingga akhirnya ia tersebar ke masyarakat lain, dan bahkan kini telah menyebar menjadi peradaban dunia. Difusi berlangsung kapan saja masyarakat mengadakan kontak. Proses difusi selalu melalui dua arah.
Masyarakat yang memliki kebudayaan dengan teknologi yang rendah, umumnya cenderung untuk meminjam dari mereka yang sudah memiliki teknologi yang lebih maju.
Didalam masyarakat itu sendiri, mereka yang berkedudukan rendah, selalu meminjam lebih banyak dari mereka yang mempunyai kedudukan tinggi. Kelompok budak umumnya menyerap budaya tuan mereka, sementara mereka melupakan atau mematikan.
Difusi adalah satu proses selektif. Satu kelompok menerima beberapa unsure kebudayaan dari tetangga ( pihak lain ) dan pada waktu yang bersamaan juga menolak unsure kebudayaan yang lain. Difusi umumnya mengandung beberapa modifikasi dari unsure pinjaman. Perlu diingat bahwa tiap unsure kebudayaan yang lain. Difusi umumnya mengandung beberapa modifikasi dari unsur kebudayaan memiliki prinsip, bentuk, fungsi, dan arti atau makna. Diantara atau semua unsure itu mungkin berubah, manakala satu unsure telah menyebar. Sebagai contoh, tembakau Indian. Orang –orang Eropa mengadopsi tembakau tersebut dan turut meminumnya dengan alat pipa tersebut berubah bentuknya, dan bahkan mereka selalu menambah dengan unsure-unsur baru, sehingga terdapat bentuk-bentuk cerutu, sigaret, tembakau sugi ( susur ). Bahkan orang Eropa telah memasukkan perubahan dalam fungsi dan makna. Orang Indian meminum tembakau sebagai satu upacara ritual, sedangkan orang Eropa memakainya untuk obat, dan terakhir sebagai kepuasan pribadi dan gengsi social dalam pergaulan masyarakat.

D.    Jenis- Jenis Perubahan Sosial
Perubahan-perubahan , baik social maupun kebudayaan dimasyarakat dapat dibedakan antara lain:
1.      perubahan yang terjadi dengan lambat dan yang terjadi secara cepat.
Yang pertama diperlukan waktu yang lama dan rentetan perubahan-perubahan kecil yang mengikutinya, ini disebut evolusi. Sedangkan yang kedua, disebut evolusi.
Dalam hal revolusi, perubahan dapat direncanakan dan menyangkut unsur-unsur pokok dalam kehidupan manusia, dan dapat juga tanpa direncanakan. Terjadinya revolusi, biasanya diawali dengan pemberontakan, di sini diperlukan unsure-unsur tertentu, antara lain :
a.       ada keinginan umum untuk mengadakan perubahan, sebagai perwujudan rasa tidak puas terhadap puas terhadap keadaan yang ada.
b.      Ada pemimpin yang mampu membawa masyarakat untuk mengarahkan keinginan bersama, menjadi satu kenyataan dengan perencanaan dan tindakan-tindakan nyata untuk mencapai tujuan itu.
c.       Ada momentum yang tepat untuk bergerak.
2.      Perubahan-perubahan yang pengaruhnya kecil dan yang besar pengaruhnya.
Yang kecil pengaruhnya ialah perubahan pada unsure-unsur struktur masyarakat yang tidak secara langsung berpengaruh kepada masyarakat. Misalnya: mode pakaian, tidak akan membawa pengaruh yang berarti bagi masyarakat secara keseluruhan, karena tidak mengakibatkan perubahan-perubahan dalam lembaga kemasyarakatan.
Yang kedua, misalnya kepadatan penduduk yang besar pada suatu areal yang sempit, akan membawa perubahan-perubahan yang besar pengaruhnya dimasyarakat. Contoh lain, industrialisasi pada masyarakat agraris, akan membawa pengaruh perubahan-perubahan yang besar kepada segi-segi kehidupan masyarakat.
3.Perubahan-perubahan yang direncanakan atau diarahkan atau dikehendaki,   dan perubahan yang tidak direncanakan atau dikehendaki.
Yang pertama, misalnya Indonesia membuat perencanaan pembangunan secara lima tahunan yang disingakt dengan PELITA. Selama itu diadakan tindakan-tindakan, atau kegiatan dalam berbagai bidang kehidupan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat lalu diadakan evaluasi. Seterusnya direncanakan lagi tahap berikutnya, sehingga ada REPELITA I, II, III dan seterusnya. Contoh lain melalui agen pembaharuan ( the agent of change ) seperti TKS BUTSI ( Tenaga Kerja Sarjana Badan Usaha  Teanaga Kerja Sukarela Indonesia ), BUUD ( Badan Usaha Unit Desa ), LKMD. PKK. AMD ( Abri Masuk Desa ) dan lain-lain.
Yang kedua contohnya, mungkin terjadi efek samping atau akibat sampingan dari tindakan pertama ( yang direncanakan ), yang mwrpakan perubahan-perubahan yang tidak diinginkan atau direncanakan, yang terjadi secara bersamaan dengan perubahan yang dikehendaki, misalnya ; munculnya tempat-tempat perbelanjaan, perjudian, pelacuran disekitar proyek pembangunan.

E.     Teori Perubahan Sosial
Sebuah teori besar merupakan teori yang cakupannya sangat luas dan meliputi beberapa fenomena penting yang terjadi pada semua kurun waktu dan tempat.  Teori tersebut adalah :
v  Teori Evolusioner
Semua teori evolusioner menilai bahwa perubahan social memiliki arah tetap yang dilalui oleh semua masyarakat. Semua masyarakat itu melalui urutan pentahapan yang sama dan bermula dari tahap perkembangan awal menuju ketahap perkembangan terakhir. Disamping itu, teori-teori evolusioner menyatakan bahwa manakala tahap terakhir telah dicapai, maka pada saat itu perubahan evolusioner pun berakhir.
August Comte ( 1798-1857 )seorang sarjana prancis kadang kala disebut sebagai pendiri sosiologi, melihat adanya tiga tahap perkembangan yang dilakukan oleh masyarakat:
1.      tahap teologis ( Teological Stage ) yang diarahkan oleh nilai-nilai dialami ( supernatural )
2.      tahap metafisik ( Methaphysical stage ) yakni tahap peralihan dimana kepercayaan terhadap unsure adikodrati digeser oleh prinsip-prinsip abstrak yang berperan sebagai dasar perkembangan budaya.
3.      Tahap positif atau tahap ilmiah ( positive or scientific stage ) dimana masyarakat diarahkan oleh kenyataan yang didukung oleh prinsip-prinsip ilmu pengetahuan.
Herbert Spencer ( 1820-1903 ) adalah seorang sarjana Inggeris yang menulis buku pertama berjudul Prinsip-Prinsip Sociologi. Sebagaimana halnya dengan kebanyakan sarjana pada masanya, spencer tertarik pada teori  evolusi organisnya Darwin dan ia melihat adanya persamaan dengan evolusi social-peralihan masyarakat melalui serangkaian tahap yang berawal dari tahap kelompok suku homogen dan sederhana ke tahap masyarakat modern yang kompleks. Spencer menerapkan konsep yang “terkuatkanlah yang akan menang” nya Darwin ( Survival Of The Fittest ) terhadap masyarakat. Ia berpandangan bahwa orang-orang yang cakap dan bergairah ( energetic ) akan memenangkan perjuangan hidup, sedang orang-orang yang malas dan lemah akan tersisih. Pandangan ini kemudian dikenal dengan “ Darwinisme  social “ dan banyak dianut oleh golongan kaya.
Lewis Henry Morgan ( 1818-1881 ), seorang ahli antropologi Amerika, melihat adanya tujuh tahap teknologi yang dilalui oleh masyarakat dari tahap perbudakan hingga tahap peradaban.
Semua teori evolusioner memiliki kelemahan tertentu:
1.      data yang menunjung penentuan tahap masyarakat dalam rangkaian tahap seringkali tidak cermat; dengan demikian, tahap suatu masyarakat ditentukan sesuai dengan tahap yang dianggap paling cocok dengan teori
2.      urutan tahap tidak sepenuhnya tegas, karena beberapa masyarakat mampu melangkahi beberapa tahap antara dan langsung ke tahap industri atau tahap komunis, serta beberapa masyarakat lainnya bahkan mundur ke tahap terdahulu
3.      pandangan yang menyatakan bahwa perubahan social besar akan berakhir ketika masyarakat mencapai tahap akhir.
Walaupun demikian teori evolusi masih mengandung banyak deskripsi yang cermat. Kebanyakan masayarakat sederhana ke masyarakat kompleks. Sampai pada batas-batas tertentu memang ada tahap-tahap perkembangan dan pada setiap tahap berbagai unsure budaya terkait kedalam system yang terintegrasi. Dengan adanya modernisasi beberapa perubahan social telah dianggap perlu, misalnya system transportasi dan bank, spesialisasi pekerjaan, dan organisasi social yang didukung oleh peran, bukannya oleh jalinan kekerabatan. Semua masyarakat yang melakukan modernisasi harus mengalami rangkaian perubahan yang kurang  lebih sama. Jadi, walaupun teori tentang adanya serangkaian tahap tidak sepenuhnya benar, namun teori itupun tidak sepenuhnya salah.
v  Teori Siklus
Menurut teori ini kebangkitan dan kemunduran suatu kebudayaan atau kehidupan social merupakan hal yang wajar dan tidak dapat dihindari dan tidak menutup kemungkinan perubahan social itu akan membawa kemunduran atau sebaliknya. Perubahan social akan membawa kearah yang lebih baik.
Oswald Spengeler ( 1880-1936 ), seorang ahli filsafat Jerman, berpandangan bahwa setiap peradaban besar mengalami proses pentahapan kelahiran, pertumbuhan, dan keruntuhan. Proses perputaran  itu memakan waktu sekitar seribu tahun.
Pitirim Sorokin ( 1889-1968 ) adalah seorang ahli sosiologi Rusia yang melarikan diri ke Amerika Serikat setelah meletus nya revolusi. Ia berpandangan bahwa semua peradaban besar berada dalam siklus tiga system kebudayaan yang berputar tanpa akhir.
1.      kebudayaan ideasional ( ideational cultural ) yang didasari oleh nilai-nilai dan kepercayaan terhadap unsure adikodrati ( supernatural )
2.      kebudayaan idealistis dimana kepercayaan terhadap unsure adikodrati dan rasionalitas yang berdasarkan fakta bergabung dalam menciptakan masyarakat yang ideal
3.      kebudayaan sensasi dimana sensasi merupakan tolak ukur dari kenyataan dan tujuan hidup.
Arnold Toyenbee ( 1889-1975 ), seorang sejarawan Inggris, juga menilai bahwa peradaban besar berada dalam siklus kelahiran, pertumbuhan, keruntuhan, dan kematian.
v  Teori Konflik
Teori ini  menilai bahwa sesuatu yang konstan atau tetap adalah konflik social bukan perubahan social karena perubahan hanyalah merupakan akibat dari adanya konflik tersebut. Karena konflik berlangsung terus menerus maka perubahan tersebut juga akan mengikutinya.
v  Teori Fungsionalis
Menurut teori ini beberapa unsure kebudayaan bisa saja baerubah dengan cepat. Sementara unsure lainnya tidak dapat mengikuti perubahan unsure tersebut. Yang terjadi adalah ketertinggalan unsure yang berubah secara peralihan tersebut menjadikan kesenjangan social ( cultural lag ). Perubahan social dianggap suatu hal yang mengacaukan keseimbangan masyarakat. Proses pengacauan ini berhenti pada saat perubahan itu diintegrasikan dalam kebudayaan.




[1] Bertrand, Alvin, alih bahasa Sanapiah S, Faisal.1980 : Sosiologi, Surabaya. Hlm 160
[2] Soerjono, Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar, Edisi Baru. 1982 Hlm 324
[3] Horton B. Paul & Chaster L, Hunt, 1976. Sociologi, four edition, hlm 445
[4] Miraza, H. Mohd. Nuh, dkk., 1972. ksatrya Dictionary Kamus Inggris Indonesia. Hlm 183
[5] Echols, John M. dan Hassan Shadily, 1976. Kamus Inggris Indonesia, hlm 323
[6] Barnett, H.G.1953. Innovation : The Basis of Cultural Change, New York Toronto London, hlm 7
[7] Harsojo, Prof., 1972. Pengantar Antropologi ( Edisi Baru ), Bandung. Hlm 142-143

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar