Minggu, 12 Februari 2012

Aliran etika Vitalisme dan aliran etika teologis


  1. Aliran  Etika Vitalisme
Aliran ini merupakan bantahan terhadap aliran Naturalisme, sebab menurut penganut paham vitalisme ini yang menjadi ukuran baik dan buruk itu bukanlah alam, akan tetapi “ vitae “ atau hidup ( yang sangat diperlukan untuk hidup ).
Aliran vitalisme ini dapat dikelompokkan kepada:[1]
a)      Vitalisme Pessimistis ( Negatif Vitalis )
Menurut aliran ini bahwa manusia yang dilahirkan adalah “ celaka “, disebut celaka adalah karena ia dilahirkan dan hidup. Lahir dan hidup manusia tidak ada gunanya, dan paham Vitalisme Pessimistis yang mengungkapkan “ homohomini lupus “, artinya “ manusia yang satu adalah merupakan serigala bagi manusia yang lainnya “.
b)      Vitalisme Optimisme
Menurut aliran ini “ hidup atau kehidupan adalah berarti pengorbanan diri, oleh karena itu mereka berpandangan  bahwa hidup yang sejati adalah “ kesediaan dan keralaan untuk melibatkan diri dalam setiap kesusahan “.
Menurut paham ini yang paling baik ialah segala sesuatu yang menempa kemauan manusia untuk menjadi berkuasa. Menurut mereka gagasan yang paling baik adalah gagasan yang revolusioner, dan gerakan yang mmempergunakan kekuatan, yang diistilahkan dengan “ spontan dynamic “ terutama sekali dalam merebut kekuasaan.
Oleh karena itu menurut penganut aliran ini “ perang adalah halal “, sebab orang yang berperang itulah ( yang menang ) yang akan memegang kekuasaan.
Tokoh terpenting aliran ini adalah F, Niettsche, dia banyak sekali memberikan pengaruh terhadap tokoh revolusioner seperti Hitler. Pada akhir hayatnya Niettsche menjadi seorang yang ateis, dan mati dalam keadaan gila, dan ia pulalah yang memproklamirkan gagasan “ God is Dead “, tuhan itu telah mati, tuhan itu tidak ada lagi, dan oleh karena itu hendaklah jauhkan diri ( putuskan hubungan dengan Tuhan ).

C. Aliran Teologis
Aliran ini berpendapat bahwa yang menjadi ukuran baik dan buruknya perbuatan manusia, adalah didasarkan atas ajaran Tuhan, apakah perbuatan itu diperintahkan atau dilarang oleh-Nya. Segala perbuatan yang diperintahkan oleh Tuhan itulah yang baik dan segala perbuatan yang dilarang oleh Tuhan itulah perbuatan yang buruk, dimana ajaran-ajaran tersebut sudah dijelaskan dalam kitab suci.[2]
Dengan perkataan teologis saja nampaknya masih samar karena didunia ini terdapat bermacam-macam agama yang mempunyai kitab suci sendiri-sendiri, yang antara satu dengan yang lain tidak sama, bahkan banyak yang bertentangan. Masing-masing penganut agama menyadarkan pendiriannya kepada ajaran Tuhan.
Sebagai jalan keluar dari kesamaran itu, ialah dengan mengaitkan etika theologies ini dengan jelas kepada agama, misalnya: etika theologies menurut Kristen, etika theologies menurut Yahudi dan etika theologies menurut islam. Hal ini dilakukan oleh ahli filsafat mengingat perkataan theologies menurut pandangan mereka masih bersifat umum, sehingga perlu ada kejelasan etika theologies mana yang dimaksudkan.






[1] Suhrawadi K. Lubis. Etika Profesi Hukum. 1994 , Jakarta : Sinar Grafika. Hlm 45
[2] A. Mustofa. Akhlak Tasawuf. 1997: Pustaka Setia. Hlm 80

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar