Minggu, 12 Februari 2012

Pranata Ekonomi


A.    Fungsi dan Akibat Kehadiran Pranata Ekonomi
Pranata ekonomi menurut terminology sosiologi adalah kaidah yang mengatur masalah produksi, distribusi, pemakaian barang dan jasa yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia.[1]
Secara umum, fungsi manifest pranata  ekonomi adalah mengatur hubungan antar pelaku ekonomi dan meningkatkan produktivitas ekonomi semaksimal mungkin. Pranata ekonomi juga berfungsi untuk mengatur distribusi serta pemakaian barang dan jasa yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia.
Pranata ekonomi lahir dari usaha orang yang bersifat coba-coba ( trial and Error ) dalam memenuhi kebutuhan mereka ( menurut analisis fungsional ), atau seringkali lembaga ekonomi lahir dari keberhasilan suatu kelompok memaksakan sekian banyak tugas dan kewajiban terhadap kelompok manusia lainnya ( menurut analisis konflik ).
Perdagangan mulai lahir ketika orang-orang menginginkan sesuatu  yang diproduksi oleh tetangga mereka ; lambat laun proses pertukaran disttandarisasi, diatur, dan dapat diramalkan, sehingga akhirnya dianggap perlu untuk dilembagakan. Lembaga-lembaga ekonomi lahir ketika orang-orang mulai mengadakan pertukaran barang-barang secara rutin, membagi-bagi tugas dan mengakui adanya tuntutan dari seseorang terhadap orang lain.[2]
Namun, kehadiran pranata ekonomi di dalam kehidupan masyarakat tidak selalu menjamin bagi terciptanya ketertiban dalam berbagai kegiatan usaha yang dilakukan antar pelaku ekonomi. Horton dan Hunt ( 1987 ) mencatat bebrapa akibat yang tidak direncanakan dari kiprah lembaga ekonomi, yaitu:
1.      Kemungkinan kehadiran pranata ekonomi merusak kebudayaan tradisional. Kebiasaan pemilik hak atas tanah, dan banyak lagi pola kehidupan yang telah mapan mengalami perubahan akibat perkembangan industry. Diperkotaan sering pula kita menyaksikan bahwa kemajuan ekonomi dan penetrasi kekuatan komersial telah menimbulkan sejumlah warga terpaksa harus tersuksesi. Digusur dari tempat tinggalnya semula dan terpaksa pindah ke tempat lain yang belum diketahui masa depannya.
2.      Kehadiran pranata ekonomi menyebabkan timbulnya ( kekaburan  norma ) dan alienasi ( rasa keterasingan ) diantara para pelaku ekonomi. Studi yang dilakukan Karl Marx, misalnya , menemukan bahwa akibat industrialisasi didalam masyarakat kapitalis telah menyebabkan kaum buruh terasing dari dirinya sendiri, dari teman kerjanya, dari barang yang diproduksinya, dan terasing dari pekerjaannya.
3.      Meningkatnya kegiatan ekonomi dalam banyak hal telah menyebabkan timbulnya kerusakan lingkungan. Pencemaran dan kerusakan ekologis hutan, misalnya terjadi target pertumbuhan ekonomi.  Efek rumah  kaca dan kerusakan lapisan ozon juga sering disebut-sebut sebagai akibat negatif yang ditimbulkan dari kegiatan ekonomi yang acap berlebihan.

B.     Hubungan Pranata Ekonomi dengan Pranata Lain
Seperti halnya pranata social lainnya, keberadaan pranata ekonomi tidaklah berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dengan pranata social yang lain. Perubahan pada pranata ekonomi mempengaruhi  perubahan pada pranata social lain, baik itu pranata keluarga, politik maupun pranata agama.
Dibawah ini akan dijelaskan satu persatu mengenai hubungan antara pranata ekonomi dengan pranata social yang lain dan bagaimana perbedaannya dilingkungan masyarakat yang tradisional dan masyarakat modern.
a.       Hubungan Pranata Ekonomi dan Pranata Keluarga
Akibat dari sebuah perkawinan adalah terbentuknya sebuah pranata keluarga. Pranata keluarga mempunyai fungsi sosial dan ekonomi yag kompleks. Di antaranya adalah pengaturan ekonomi keluarga. Setiap keluarga apapun bentuknya selalu mempunyai dapur yang setiap hari harus “berasap” agar anggota keluarga dapat mempertahankan hidup. Jika fungsi ekonomi ini dikaitakan dengan kegiatan ekonomi yang meliputi produksi, distribusi, dan konsumsi, maka akan banyak dijumpai pada keluarga- keluarga di pedesaan, terutama yang berlandaskan ekonomi agraris. Di pedesaan, keluarga berfungsi sebagi unit produksi, misalnya semua anggota keluarga dilibatkan dalam mengolah tanah ataupun menanam benih. Mereka juga secara bersama- sama menjual serta menikmati hasilnya, sedang pada keluarga di perkotaan tidak lagi berperan dalam kegiatan produksi bahan pangan, mereka lebih banyak bergerak dalam produksi jasa dan akan mendapatkan uang sebagai imbal jasa yang akan dipakai untuk memenuhi segala kebutuhan keluaga.
Urusan-urusan pokok untuk mendapatkan suatu kehidupan di laksanakan keluarga sebagai unit-unit produksi yang sering kali dengan mengadakan pembagian kerja di antara anggota-anggotanya. Jadi, keluarga bertindak sebagai unit yang terkoordinir dalam produksi ekonomi. Dari situ dapat menimbulkan adanya industry-industri rumah di mana semua anggota keluarga terlibat di dalam kegiatan pekerjaan atau mata pencaharian yang sama. Dengan kata lain, suami tidak hanya sebagai kepala rumah tangga, tetapi juga sebagai kepala dalam bekerja.
Di dalam masyarkat tradisional, sejumlah besar kegiatan ekonomi diorganisir dan muncul dari pranata keluarga. Setiap anggota keluaega langsung siap berpartisipasi dalam kegiatan langsung siap berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi. Keluarga bukan saja menjadi pusat dan sumber tenaga kerja, tetapi juga menjadi pusat sumber tenaga kerja, tetapi juga menjadi media sosialisasi untuk meneruskan pengetahuan dan tehnologi yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan ekonomi.[3]
Fungsi diatas jarang sekali terlihat pada keluarga di kota dan bahkan fungsi ini dapat dikatakan berkurang atau hilang sama sekali. Karena ketika masyarakat berkembang makin modern dan kompleks. Kegiatan ekonomi mulai terpisah dari keluarga. Proses-proses ekonomi mulai banyak diambil alih oleh pranata lain, misalnya oleh pranata pendidikan yang bertugas mencetak sarjana-sarjana ulung yang diperlukan untuk mengisi lowongan kerja pada perusahaan atau pabrik-pabrik modern.
Keluarga dalam masyarakat modern bukan lagi pusat dan sarana dari pranata ekonomi: bukan lagi sumber tenaga kerja dan tehnologi yang eksklusif- kendati tetap penting sebagai pranata sumber-sumber norma dari tenaga kerja. Keluarga disini menciptakan motif dasar yang diperlukan di dalam kerja manusia. Keterlibatan keluarga dalam kegiatan pranata ekonomi terasa semakin berkurang, salah satunya ialah karena industry modern memerlukan keterampilan dan keahlian yang tersepesialisasi, norma-norma baru yang impersonal, yang mana semua itu jarang dapat disosialisasikan dalam keluarga.
b.         Hubungan Pranata Ekonomi dengan pranata Pendidikan
Didalam masyarakat tradisional, pranata pendidikan umumnya berfungsi untuk menanamkan dan melestarikan norma-norma budaya non-ekonomi. Pranata pendidikan waktu itu diperlukan untuk menjadikan manusia religious dan memiliki bekal moral yang diperlukan untuk pergaulan social.
Peranan pranata pendidikan dalam kegiatan ekonomi mulai menguat ketika lembaga ini berkembang makin modern dan canggih. Kurikulum dan jenjang lembaga pendidikan yang tersusun sedemikian rupa secara sengaja dipersiapkan untuk menghasilkan tenaga kerja dan mencetak sumber daya manusia yang responsive dan kreatif dalam menciptakan tehnologi yang dibutuhkan untuk kegiatan ekonomi. Pendidikan di dalam masyarakat modern acapkali juga menjadi arena latihan peran yang diperlukan oleh pranata ekonomi modern.
Proses seleksi atau rekruitmen tenaga kerja di berbagai perusahaan secara signifikan dipengaruhi oleh pranata pendidikan. Lulusan lembaga pendidikan yang berkualitas sarjana atau Cuma setingkat SLTP, misalnya tentu probabilitas dan penempatannya di dalam lembaga ekonomi akan berbeda. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin besar peluang mereka untuk menduduki jabatan penting di dalam lembaga social.
c.         Hubungan Pranata Ekonomi dan Pranata Politik
Jika membahas mengenai Ekonomi, pasti ada hubungannya dengan politik pemerintahan. Memang sejak wal kemunculannya, pemerintah sudah selalu berurusan dengan masalah-masalah ekonomi.
Hubungan antara pranata ekonomi dengan pranata politik bersifat timbal balik. Pranata ekonomi mempengaruhi karena menyediakan sumber-sumber daya yang penting dalam kebijaksanaan dan pengambilan keputusan dalam pranata politik. Ketersediaan sumber migas di dalam negeri, misalnya, banyak mempengaruhi para elite politik dalam menyusun berbagai program kebijaksanaan pembangunan, khususnya menyangkutnya kemampuan dana Negara.
Disisi lain, pranata politik berfungsi untuk mengatur arus dan akumulasi modal, sumber daya alam, distribusi tenaga kerja, teknologi dan pengelolaannya. Di dalam masyarakat sosialis, peran pranata politik jelas sangat menonjol karena nyaris semua kegiatan ekonomi ditentukan dan dikelola oleh Negara. Sementara itu, di dalam masyarakat kapitalis, peran pranata politik relative agak terbatas karena sebagian besar kegiatan ekonomi ditentukan oleh kekuatan pasar.
d.        Hubungan Pranata Ekonomi dengan Pranata Agama
Di dalam masyarakat tradisional, pranata agama berfungsi untuk mendorong manusia terlibat dalam peran-peran dan tingkah laku ekonomi karena agama mengurangi rasa cemas dan rasa takut. Studi yang dilakukan Malinowski di kalangan masyarakat Trobriand, misalnya menemukan bahwa masayarakat tersebut selalu mengadakan upacara-upacara ritual tertentu sebelum melaksanakan kegiatan mencari ikan di laut.
Pranata agama juga menciptakan norma-norma social yang mempengaruhi pranata ekonomi. Studi yang dilakukan Marx Weber mengenai “ etika Protestan” menemukan bahwa agama Protestan ternyata memberikan sumbangan tidak kecil bagi upaya penciptaan jiwa kewiraswastaan. Ajaran agama protestan yang menganjurkan kepada para pemeluknya agar selalu bekerja keras, tahan cobaan, dan hidup irit-menurut Weber, menjadikan mereka tidak konsumtif, tapi, selalu berusaha menginventasikan sumber dana yang dimilikinya anak bersuaha dan terus berusaha.
Di dalam masyarakat yang makin modern, peran pranata agama di dalam kegiatan ekonomi relative berkurang.pranata ekonomi umumnya menekankan pentingnya rasionalitas dan sekularisme acap menyebabkan ia harus bersilang kepentingan dengan pranata agama yang menekankan kepercayaan kepada hal-hal supranatural. Di dalam masyarakat modern, keberadaan pranata agama relative terpisah dari pranata ekonomi.


[1] J. Dwi Narwoko & Bagong Suyanto. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta : Kencana. 2006, hal 286
[2] Paul B. Horton & Chester L. Hunt. Sosiologi .Ed. Ke-6. Jakarta: Erlangga. 1984,hal 363-364
[3] J. Dwi Narwoko & Bagong Suyanto. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta : Kencana. 2006, hal 297

Tidak ada komentar:

Posting Komentar